MTs Husnul Khatimah Jadi Piloting Pertama Kurikulum Berbasis Cinta di Polewali Mandar
Polewali Mandar – Madrasah Tsanawiyah (MTs) Husnul Khatimah Polewali Mandar ditetapkan sebagai madrasah piloting pertama implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di Kabupaten Polewali Mandar. Penetapan tersebut ditandai dengan pelaksanaan workshop implementasi KBC yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Polewali Mandar melalui Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah, Sabtu (29/8/2026).
Workshop tersebut dibuka secara resmi oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Polewali Mandar, H. Abd. Haris. Kegiatan turut dihadiri Kepala Seksi Pendidikan Madrasah H. Marsuki, Pengawas MTs Husnul Khatimah Basri, Kepala MTs Husnul Khatimah Gazali Rahman, serta para guru MTs Husnul Khatimah sebagai peserta workshop.
Pengawas MTs Husnul Khatimah, Basri, menyampaikan bahwa program piloting implementasi KBC akan dikembangkan pada 25 madrasah di Kabupaten Polewali Mandar. Masing-masing pengawas madrasah akan mengusulkan satu madrasah di wilayah binaannya untuk menjadi madrasah piloting.
“Sebanyak 25 madrasah di Polewali Mandar akan menjadi piloting implementasi KBC. MTs Husnul Khatimah ini merupakan madrasah piloting pertama di Polewali Mandar,” ujar Basri.
Sementara itu, Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Polman, H. Marsuki, berharap pelaksanaan workshop tersebut menjadi langkah awal untuk mendorong madrasah di Polewali Mandar menjadi percontohan implementasi KBC di tingkat Sulawesi Barat.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan ini, insyaallah madrasah di Kabupaten Polewali Mandar bisa menjadi piloting KBC di Sulawesi Barat,” harapnya.
Plt. Kepala Kantor Kemenag Polman, H. Abd. Haris, dalam sambutannya menekankan bahwa KBC tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kecintaan peserta didik kepada Allah SWT, lingkungan, orang tua, dan dirinya sendiri.
“Kurikulum Berbasis Cinta mengantarkan peserta didik kita bagaimana cinta kepada Allah SWT,” ujarnya.
Menurut Abd. Haris, nilai-nilai cinta tersebut perlu ditanamkan dalam diri peserta didik sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan karakter.
“Ini yang harus kita tanamkan kepada peserta didik kita. Selain cinta kepada Allah, cinta kepada lingkungan dan orang tua, peserta didik juga harus cinta kepada diri sendiri,” sambungnya.
Ia menyoroti masih adanya peserta didik yang menunjukkan perilaku yang mencerminkan kurangnya kepedulian terhadap dirinya sendiri, seperti mengonsumsi minuman keras dan melakukan berbagai perbuatan tercela lainnya. Karena itu, menurutnya, pendidikan berbasis cinta perlu dihadirkan untuk membangun kesadaran peserta didik dalam menjaga dan menghargai dirinya.
Selain penguatan karakter, Abd. Haris juga mendorong para guru untuk mampu mengenali dan mengembangkan potensi yang dimiliki setiap peserta didik. Potensi tersebut, kata dia, dapat ditemukan melalui berbagai kemampuan, seperti membaca, berhitung, mengaji, maupun menulis.
“Mungkin peserta didik kita memiliki potensi. Ada yang bisa baca tulis Al-Qur’an, memiliki suara yang bagus, atau tajwidnya bagus. Potensi-potensi seperti ini bisa kita kembangkan dan kita ikutkan berkompetisi, mulai dari MTQ tingkat daerah hingga nasional,” pungkasnya.
Pelaksanaan workshop implementasi KBC di MTs Husnul Khatimah diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat penerapan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran sekaligus mendorong lahirnya madrasah percontohan implementasi KBC di Kabupaten Polewali Mandar dan Sulawesi Barat.









